Dua hari UN banyak hal yang terjadi
Dari beredarnya kunci jawaban di anak-anak
Sampai tingkah pengawas dan guru dari berbagai SMA
Kenapa tahun demi tahun selalu berulang kejadian yang sama
Bukankah hanya Keledai yang selalu terperosok pada lubang yang sama itu kata orang-orang
Yang menggambarkan bahwa keledai itu bodoh walau saya sendiri tidak yakin keledai itu bodoh
Cuma manusia saja selalu menilai sesuatu dari aspek dirinya
Contoh yang disebut hama adalah yang menurut manusia itu merugikan bagi manusia
Seperti halnya UN targetnya sebenarnya adalah qualitas
Tapi karena berbagai hal kepentingan jadi digeser ke quantitas
Ada beberapa orang guru yang menyatakan tidak adil 3 tahun harus duji dalam seminggu
Tapi yang jadi pertanyaan apakah waktu 3 tahun itu sudah dibekali secara kualitas belum?
Contoh kalau kita bertahan pada kualitas maka anak yang tidak mampu naik kelas maka akan tinggal tetap di kelas itu
Nah kalau begini berarti yang naik ke ke kelas 3 adalah siswa-siswa berkualitas
Jadi mau dikasih UN dengan standar berapapun guru tidak perlu khawatir kan mereka anak2 berkualitas
Tapi kenyataan yang ada sering kali guru menaikan angka anak2 yang kurang
Jadi anak2 juga berpikir ngapain belajar toh nilai juga bisa di mark up kaya anggaran he3
Nah ini dia dunia pendidikan Indonesia bersifat tidak mendidik dan akhirnya menghancurkan mentalitas bangsa
Mau sampai kapan ini berlangsung, mau model apa kurikulumnya tetap ya berjalan mundur dunia pendidikan kita kalau quantitas jadi penilaian
Jadinya pas UN semua sibuk dari guru, Kepala Sekolah terus mungkin Kepala Dinas dan mungkin juga Kepala Daerah
takut dianggap tidak mampu
Barangkali DIKNAS dan yang terkait seharusnya memikirkan hal ini
Kita adalah suatu mata rantai yang akan menentukan keberhasilan pendidikan ini
Jadi keberhasilan yang nanti muncul bukan karena satu orang saja tapi semua perangkat
Begitu juga kalau terjadi kegagalan
terimakasih Buat pak Asep atas pemikirannya, semoga semua bisa berpikir kembali buat lebih meningkatkan kualitas bukan kuantitas lagi
Pak, Asep saya setuju dengan pemikaran anda
Dwi Susianti/SMA Cenderawasih I Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar